Jangkung Ipis
  • HOME
  • BEHANCE
  • VIMEO
  • INSTAGRAM
  • TWITTER
  • Theme
  • Miroir

    Pernahkah kau menyapa dia yang teresidu di dalam cermin? Dia kesepian. Kadang dia memang menyebalkan. Plagiator yang ulung. Tapi ada kalanya dia menyenangkan. Coba sekali-kali kau sapa. Dia pasti akan tersenyum saat kau tersenyum. Walau palsu.
    Lihat! Dia melambaikan tangan! Tenang…Dia tidak akan pergi jauh. Hanya sebentar. Mungkin ke WC untuk kencing. Atau berak. Atau juga mansturbasi. Tadi dia bawa laptop. Ke WC. Senyum.
    Ayolah. Jangan terlalu kecewa. Bagaimana pun juga dia adalah substansi dari aktivitasmu yang mulai repetisi. Contohlah dia selalu ada saat kau berkunjung. Paling penting. Dia akan tersenyum saat kau tersenyum. Walau palsu.

    Behance

    Cell

    The smallest functional structure of human. There is a faith and destination to reach the widest universe.

    Behance

    Asketisme Intelektual

    Dikerangka dalam konteks proses pendidikan (dalam arti luas), metafor asketisme intelektual menjadi rujukan tapa brata “mencegah dahar lan guling" seperti digambarkan dalam Wedhatama dan Arjunawiwaha. Dengan mencegah hawa nafsu - taruhlah contoh dilakukan antara lain oleh para pendiri negeri ini - dibangun dan dikembangkan dasar kemerdekaan Indonesia.

    Tokoh-tokoh yang rela mengorbankan kesempatan terbuka untuk hidup mewah di bawah ketiak penjajah. Itulah etos bangsa, inner force yang dimiliki dan kita tangkap sebagai sumber utama menerobos kebuntuan.

    Kehadiran mereka dibatasi ruang dan waktu, tetapi inner force mereka, terutama kebajikan yang ditinggalkan sebagai asketisme intelektual niscaya abadi dan tidak terbatasi tempat.

    - Majalah Intisari edisi Agustus 2012 No. 597

    Restless Sinner

    image


    manggelinjang saat bayangan incognita
    gulung harta, tahta, dan wanita
    bahkan pria
    mulai membentuk benteng betina

    tak lelah bercumbu dengan saluran televisi
    sebentar membentuk manusia satu dimensi
    senyum palsu para pengemis amnesti
    7 hari kemudian menggali kuburnya sendiri

    memompa libido daya beli
    muntahkan jari tengah untuk para peace convoys
    yang tergerus dasyatnya ombak konsumsi
    menginjak iman dan hanya kimpoy

    not on the playground of emotion
    just on temple of metaphorical wonder
    for subjective opinion
    human are the restless sinner

    Kebebasan yang Berdosa

    Memikirkan sebuah kebebasan dan segala macam tentang independensi memicu conundrum akut. Ketika duduk di sebuah coffe shop dengan deretan menu yang tak mampu dibeli. Disini dipaksa menunggu. Entah menunggu teman atau menunggu kebebasan dari masa-masa menunggu. Pikiran terbang dan bertengger pada satu kata. Aturan. Dimana aturan adalah kandang bagi kebebasan yang membentuk sebuah teori bahwa aturan ada untuk dilanggar.

    Mencari arti kebebasan tanpa tahu harus berjalan kemana. Malah tersesat pada teka-teki itu sendiri.

    Bahkan Tuhan pun punya aturan. Berarti manusia memang hidup dari awal dengan ketidakbebasan. 10 Perintah Allah menjadi aturan pertama yang langsung “dibebani” kepada manusia. Tapi apakah jika manusia melanggar aturan itu berarti mereka bebas? Atau malah terjebak pada aturan baru yang disebut dosa.

    Never Easily Satisfied


    Hei Charlie Chaplin. What’s your best performance? What’s your best movie?

    The next one.

    Bersatu Bukan Jadi Satu

    image

    Menolak untuk sama bukan berarti bebas untuk berbeda. Walau ego ini ingin menunjukkan bahwa manusia boleh berbeda. Tak harus sama untuk mencapai kebebasan. Bersatu, isinya beragam. Satu, kadang dipaksa untuk jadi sama dan manusia dipaksa hidup seolah mereka bebas.

    Ketombe

    Obrolan absurd itu dimulai ketika Bandung cukup cerah untuk melihat langit di malam hari. Dilihat dari dataran tinggi yang tampak gugusan lampu kota berjajar rapi. Ya…langit cerah. Apakah bisa melihat bintang juga? Tampak 2 titik bintang kala itu. Seperti ketombe. Merek shampoo yang dipakai sepertinya amat kuat sampai-sampai ketombenya hanya tinggal 2.
    Ahh…
    Sebenarnya langit adalah kumpulan rambut gondrong yang amat banyak. Sepekan padat kemarin hujan. Mungkin dipakai untuk keramas. Tapi masih tersisa 2 ketombe itu. Bintangnya sedikit.

    Berangkat Karena Hasrat

    malam suci nyaman dan merindukan
    mulai menganyam kisah repetisi
    menunggu pasti gumpalan daging bernyawa
    saat hasrat klise mengalir tanpa celah
    kuterobos segala tatapan tajam
    menusuk pada gelombang panjang
    rasa nyaman yang salah menggulung langkah
    mau tak mau karena punya tujuan
    hanya ekskresi air seni 20 detik

    123Newer   →